Efektivitas Pengelolaan Pantai Cemara Dan Kawasan Penyangga TN Berbak Sembilang
Jambi - Pentingnya Area Preservasi Pantai Cemara sebagai habitat burung migran global kembali ditegaskan. Dinas Kehutanan Provinsi Jambi bersama Forum Kolaborasi Pengelola Ekosistem Esensial menggelar penilaian Management Effectiveness Tracking Tool METT pada Selasa, 23 Juni 2026 di Jambi.
Kegiatan ini bagian dari implementasi Proyek South China Seas Strategic Action Programme SCS-SAP, kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup, United Nations Office for Project Services UNOPS, dan PKSPL IPB University.
Area Preservasi Pantai Cemara, yang dulu disebut Kawasan Ekosistem Esensial KEE, punya nilai ekologis sangat tinggi. Kawasan mangrove dan mudflat ini jadi lokasi persinggahan dan mencari makan burung air migran di Jalur Terbang Asia Timur–Australasia EAAF.
Setiap musim migrasi Agustus hingga April, ribuan burung pantai datang ke sini. Koordinator Coastal Wetland SCS-SAP Project PKSPL IPB University *Eko Budi Priyanto* menyebut, hasil penelitian Pokja KEE 2025 mencatat lebih dari 1.000 burung dari 24 jenis terpantau dalam satu waktu.
“Kami juga mencatat ada tiga jenis burung pantai bermigrasi berstatus Endangered EN berdasarkan IUCN. Di antaranya trinil nordmann Tringa guttifer, gajahan timur
Numenius madagascariensis dan kedidi besar Calidris tenuirostris,” jelas Eko.
Menurut Eko, lokasi ini tak hanya penting untuk keanekaragaman hayati. Pantai Cemara juga strategis bagi mata pencaharian masyarakat pesisir dan sebagai penyangga kehidupan: menjaga pasokan air, cegah bencana, dan kurangi dampak perubahan iklim. Fungsi ini krusial untuk menjaga kawasan penyangga Taman Nasional Berbak Sembilang.
Karena nilai penting itu, Forum Kolaborasi Pengelola Ekosistem Esensial Pantai Cemara dibentuk lewat SK Gubernur Jambi No. 398/Kep.Gub/Dishut-3.3/2019 tanggal 18 Maret 2019.
Pelaksana Tugas Kepala Seksi KSDAE Dinas Kehutanan Jambi *Yuliana* menjelaskan METT sudah diaplikasikan di Indonesia untuk menilai efektivitas pengelolaan di tingkat lapangan. Selama dua hari, 23 dan 25 Juni 2026, 31 orang dari 22 anggota forum kolaborasi ikut menilai efektivitas pengelolaan berkelanjutan.
“METT versi 4.4 adalah versi termutakhir yang dirancang menjawab tantangan pengelolaan kawasan konservasi di era perubahan iklim. METT kini menelusuri dimensi lebih kompleks, termasuk penilaian habitat dan satwa indikator kunci, kompas ekologis yang menunjukkan apakah kawasan masih sehat sebagai tempat singgah burung migran,” tambah Yuliana.
Penilaian METT diharapkan menghasilkan solusi, rekomendasi teknis, dan mekanisme kerja sama lintas pihak. Tujuannya agar pengelolaan Area Preservasi Pantai Cemara serta kawasan penyangga Taman Nasional Berbak Sembilang berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.(*)
