LAM Kota Jambi: Adat Bertahan, Teknologi Jalan, Dari Balairung ke Digital
Jambi - Di era serba digital, menjaga tradisi sering kali dianggap tabu bersinggungan dengan teknologi. Tapi LAM Kota Jambi membuktikan sebaliknya. Lewat inovasi digital, lembaga adat ini hattrick Juara 1 Apresiasi LAM Se-Provinsi Jambi 2026.
Penghargaan diserahkan Gubernur Al Haris di Balairung Sari, Minggu (16/6/2026). Bagi Datuk Aswan Hidayat, piala ketiga ini bukan sekadar trofi. Ini bukti adat Melayu bisa adaptif tanpa kehilangan jati diri.
"Kita tidak cukup hanya menggelar upacara adat. Anak muda sekarang hidupnya di HP. Makanya LAM Kota Jambi bangun website resmi, aktifkan media sosial, bahkan siapkan perpustakaan digital tentang budaya Melayu Jambi," jelas Datuk Aswan.
Transformasi teknologi jadi salah satu dari 4 kriteria penilaian ketat tim provinsi. Tiga kriteria lain: finansial APBD yang sehat, manajemen akuntabel, dan eksistensi kultural lewat diklat budaya untuk generasi muda.
Hasilnya? LAM Kota Jambi dinilai juri sebagai lembaga adat yang paling siap menghadapi zaman. Tradisi dijaga di Balairung, informasinya disebar lewat gawai. Kombinasi ini yang membuat Kota Jambi unggul dari 11 LAM kabupaten/kota lain sejak 2024.
"Hattrick ini tanggung jawab. Artinya masyarakat percaya kita bisa jaga adat sekaligus bawa adat ke ruang digital," tutup Datuk Aswan.(*)
