"Investasi Bukan Fantasi: Pentingnya Melek Finansial Sejak Dini."
Oleh: Khaeranza Irwan, SMA Taruna Nusantara
“Investasi hari ini, bulan depan langsung kaya!”
“Biarkan passive income membiayai hidup Anda!”
“Sukses di usia muda cuma bermodalkan investasi”
Pernahkah Anda mendengar kalimat-kalimat seperti itu di media sosial? Kalimat-kalimat manis tersebut begitu lihai membius mata dan telinga kita.
Berfantasi dan membayangkan masa depan yang gemilang dari janji-janji manis di media sosial, memang menjadi masalah yang berpotensi membuat orang-orang berinvestasi layaknya berjudi.
Tanpa adanya ilmu finansial yang kuat, akan memicu munculnya penyakit mental finansial bernama Fear of Missing Out (FOMO). Ketakutan akan tertinggal tren membuat banyak orang, khususnya generasi muda, terlalu terburu-buru menanamkan uangnya tanpa pemahaman yang memadai.
Hanya karena melihat portofolio orang lain hijau di media sosial, logika seketika mati dan digantikan oleh keserakahan semata.
Fenomena FOMO ini terbukti dari data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang mencatat bahwa dari sekitar 13 juta investor pasar modal di Indonesia, lebih dari 55 persen di antaranya didominasi oleh anak muda berusia di bawah 30 tahun.
Namun, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) oleh OJK menunjukkan adanya ketimpangan tajam, di mana tingkat inklusi keuangan masyarakat sudah sangat tinggi tetapi tingkat literasi atau pemahaman risikonya masih tertinggal jauh di belakang.
Ironisnya, generasi masa kini sering kali mematok standar "sukses finansial" dari potongan konten belasan detik di TikTok atau Instagram.
Sangat menggelikan melihat seseorang yang menggebu-gebu bermimpi meraih kebebasan finansial dan passive income puluhan juta, padahal cara mengelola arus kas bulanan saja masih amatir, apalagi dana darurat yang angkanya masih nol besar.
Menghubungkan mimpi kaya raya dengan investasi tanpa mau belajar ilmu dasarnya sama saja seperti menaiki wahana roller coaster tanpa sabuk pengaman: memicu adrenalin di awal, namun berujung tragis di akhir.
Inilah mengapa pembekalan ilmu finansial sejak dini bukan lagi sekadar opsi, melainkan sebuah kebutuhan. Literasi keuangan bukan cuma ajaran kaku tentang cara menabung, melainkan sebuah tamparan realita agar kita sadar akan tata keuangan yang benar.
Mengerti analisis risiko, paham cara membedakan aset dan liabilitas, serta disiplin memupuk modal adalah fondasi utama.
Tanpa ilmu yang matang, masyarakat akan terus menjadi santapan empuk para "influencer finansial" atau skema-skema bodong yang lihai berjualan mimpi palsu di atas penderitaan orang lugu.
Dampak dari pengabaian ilmu finansial ini bukanlah gertakan belaka. Catatan dari Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) OJK menunjukkan bahwa total kerugian masyarakat Indonesia akibat kejahatan investasi bodong, pinjaman online ilegal, dan skema Ponzi telah menembus angka fantastis hingga ratusan triliun rupiah dalam kurun waktu satu dekade terakhir.
Pada akhirnya, masyarakat harus sadar bahwa di dunia nyata tidak ada tongkat sihir pencetak uang instan.
Pertumbuhan aset yang sehat selalu menuntut waktu, riset mendalam, kesabaran, serta konsistensi menanam modal, bukan sekadar menanam fantasi semata.
Mengharapkan kaya mendadak dari investasi tanpa ilmu yang mencukupi adalah bentuk fantasi yang naif.
Investasi memang instrumen yang sangat efektif untuk mengamankan masa depan, tetapi keberhasilannya selalu dibangun di atas fondasi ilmu yang matang dan logika yang mantap, bukan atas dasar hasrat ikut-ikutan atau buaian dongeng di media sosial.
