BREAKING NEWS

Kisah RPK PT WKS, 'Tiga Hari Menjadi Ayah, Lalu Kembali Melawan Api'

Jambi - David Juntara Harahap telah sepuluh tahun bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun penugasan kali ini terasa berbeda.

Ia baru saja dikaruniai anak perempuan pertama. Hanya tiga hari ia bisa mendampingi istrinya saat melahirkan, sebelum kembali bertugas jauh dari rumah.

"Terus terang, sangat sedih. Apalagi saya baru menjadi seorang ayah dan saya hanya bisa mendampingi istri saya waktu melahirkan selama tiga hari," tutur David di sela penugasan pemadaman di Jambi.

Di rumah, istrinya, Angel (25), menjalani hari-hari pertama sebagai ibu bersama putri mereka, Dania, yang saat diwawancarai baru berusia dua bulan 21 hari. Keluarga kecil itu tinggal di kawasan PT Wirakarya Sakti (WKS) Sungai Tapa, Jambi.

Angel mengaku hari-hari tanpa suami terasa berat, terutama saat membutuhkan teman berbagi cerita dan membantu urusan rumah.

"Biasanya ada tempat untuk berbagi cerita, meminta pendapat, dan saling membantu dalam urusan keluarga. Namun, ketika suami bertugas, saya berusaha kuat dan menjalankan tanggung jawab di rumah sendiri," ungkap Angel.

Dania memang belum bisa mengungkapkan rindu. Namun Angel memiliki cara sederhana untuk mengenalkan sosok ayah kepada putrinya.

"Saya sering memperlihatkan foto ayahnya dan menceritakan tentang ayahnya, walaupun anak masih bayi dan belum sepenuhnya mengerti," katanya.


Sinyal Jadi Barang Berharga

Bagi David, tantangan di lapangan bukan hanya api dan asap, melainkan sulitnya menghubungi keluarga. Lokasi pemadaman yang jauh dari permukiman kerap tanpa jaringan telekomunikasi.

"Ketika saya mendapat kebakaran di lokasi yang jauh dari permukiman masyarakat atau susah sinyal, itu perasaan yang paling sedih. Saya tidak bisa menghubungi istri dan keluarga saya," ujarnya.

Pekerjaan pemadaman juga menuntut fisik yang tidak ringan. Akses sulit, terik matahari, kelelahan, hingga keterlambatan pasokan makanan menjadi risiko harian. Namun David terus mengingat pesan rekannya, Tobi, yang melekat di benaknya.

"Ketika bekerja kena asap, pulang kerja kena asap. Ketika kita tidak bekerja, dapur tidak berasap," kenang David.

Kalimat itu menjadi pengingat tanggung jawabnya sebagai pencari nafkah, terlebih kini ada bayi yang membutuhkan susu dan keperluan lain.

Setelah bertahun-tahun bertugas bersama, tim di lapangan sudah ia anggap seperti keluarga sendiri.

Sementara itu, Angel hanya bisa bersabar saat pesan tak berbalas atau panggilan tak tersambung.

"Saya hanya bisa bersabar dan terus berdoa, berharap ada kabar bahwa suami dalam keadaan baik-baik saja," tuturnya.

Kerinduan David pun sederhana. Ia merindukan masakan istrinya. Namun kini ada satu suara yang paling ia rindukan di sela kepulan asap.

"Yang paling saya rindukan adalah tangisan anak perempuan saya yang masih kecil," ujarnya.

Saat pulang nanti, hal pertama yang ingin ia lakukan adalah mencium dan memeluk Dania.

Bagi Angel, tidak ada harapan yang berlebihan. Ia hanya ingin suaminya pulang dengan selamat.

"Bagi saya, keluarga tidak membutuhkan hal yang berlebihan. Kami hanya ingin suami pulang dengan selamat karena kehadirannya adalah kebahagiaan terbesar bagi kami," kata Angel.(*)



Posting Komentar
ADVERTISEMENT
Designed by Jambipos
ADVERTISEMENT
Designed by Jambipos
ADVERTISEMENT